7 September 2012 - 18:04

Sejak Februari 2011, sebagian warga Saudi telah mengadakan demonstrasi secara rutin hampir di setiap titik Arab Saudi, terutama di Qatif dan kota Awamiyah, dan menyerukan pembebasan semua tahanan politik, kebebasan berekspresi dan berkumpul, dan mengakhiri diskriminasi.

Menurut Kantor Berita ABNA, warga Saudi yang mengklaim diri anti rezim Saudi kembali menggelar demonstrasi di Arab Saudi. Aksi unjukrasa tersebut sebagai reaksi kemarahan warga yang semakin membara karena tindakan keras kerajaan di Riyadh terhadap para demonstran dalam beberapa bulan terakhir.

 

Protes dipicu oleh adanya  larangan pejabat Saudi pada setiap perkumpulan atau aksi unjuk rasa anti-rezim di kerajaan.


Para demonstran menyerukan pembebasan tokoh ulama Syiah Sheikh Nemr al-Nemr yang diserang, terluka dan ditangkap oleh pasukan keamanan rezim Al Saud saat mengemudi dari peternakan ke rumahnya di daerah Qatif Provinsi Timur pada 8 Juli lalu.


Sejak Februari 2011, sebagian warga Saudi telah mengadakan demonstrasi secara rutin hampir di setiap titik Arab Saudi, terutama di Qatif dan kota Awamiyah, dan menyerukan pembebasan semua tahanan politik, kebebasan berekspresi dan berkumpul, dan mengakhiri diskriminasi.

 
Namun, demonstrasi telah berubah menjadi protes terhadap rezim represif Al-Saud, terutama sejak November 2011, ketika pasukan keamanan Saudi menewaskan lima pengunjuk rasa dan melukai banyak orang lainnya, demikian berita dilansir dari Islam Times.

 
Pada tanggal 13 Agustus, Menteri Pertahanan Swedia Karin Enstrom mengkritik Riyadh atas pelanggaran hak asasi manusia, menggambarkan Arab Saudi sebagai "rezim otoriter dan monarki absolut.